Senin, 29 Juli 2013

Review : Jalan Menuju Cinta-Mu



Judul                  : Jalan Menuju Cinta-Mu
Author               : Rhein Fathia
Editor                : Imam Risdianto
Publisher           : Penerbit Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Genre                : Fiksi Indonesia
Cetakan I          : Juli 2013. Pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada 2008.

Jika kita bisa melampiaskan emosi kita pada seseorang, sebenarnya saat itu kita merasa bahwa orang itulah yang dekat dengan hati kita.

Alhamdulillah dapat buku gratis lagi *hehehe. Hasil menang giveaway yang diadakan Kak Rhein. Berkisah tentang Ella dan Maya, sahabat setia selamanya. Meski berbeda sifat persahabatan keduanya tetap awet tak terpisahkan. Ella yang tak banyak bicara dan Maya yang selalu mencurahkan apa pun yang dirasakannya. Namun semua masalah datang bertubi – tubi saat rumah tangga Mama dan Papa Ella berakhir di meja hijau. Papa-sosok ayah yang sangat baik- tega mengkhianati Mama –sosok wanita karir super sibuk- dengan wanita lain.
Alasannya klise, Papa butuh istri rumahan yang mencurahkan perhatiannya untuk keluarga. Sedangkan Mama adalah wanita dengan posisi direktur di sebuah perusahaan. Potensinya masih dibutuhkan sekarang, begitu ujarnya selalu. Ella seakan kehilangan salah satu alasan hidupnya. Dia tidak yakin jika Mama dan Papa mencintainya. Hanya langit malam yang setia menemaninya. Taburan bintang seakan menyimpan jutaan jalan yang penuh misteri. Tuhan benar – benar tega mengambil semua kebahagiaannya. Setelah perceraian orang tuanya, Ella dikejutkan dengan calon suami Mama Maya, sahabatnya. Dia adalah Papa! Merasa dikhianati dan ditikam diam – diam oleh sahabat sendiri. Berbulan – bulan Ella hidup sendiri. Hingga suatu hari Maya menemuinya dengan keadaaan hamil. Padahal baru saja mereka lulus SMA. Ella masih menyayangi Maya, begitupun sebaliknya. Serentetan peristiwa menegangkan hadir dan membawa kepada suatu jalan menuju cinta-Nya.

Setelah saya bandingkan memang ada yang perbedaan dan persamaan antara karya Kak Rhein yang ini dengan yang CoupL(o)ve. Karena memang baru dua itu yang pernah saya baca. Perbedaannya secara mendasar mungkin dari gaya bahasa, dialog, rangkaian ceritanya masih gaya Kak Rhein lima tahun lalu. Masih remaja sekali menurut saya. Kalau CoupL(o)ve mungkin lebih dewasa dan gaya berceritanya lebih mengalir tanpa terlalu menekankan pada pemilihan kata – kata indah. Persamaannya, tokoh sentral selalu digambarkan sebagai orang yang tertarik dengan dunia pena dan pengagum langit malam beserta bintang – bintangnya. Mungkin karena di dunia nyata Kak Rhein juga sangat tertarik dengan astronomi. Bahkan dia bergabung dengan forum diskusi astronot yang amatir. Dan menurut saya sebagian dari tulisannya adalah berdasarkan apa yang telah ia rasakan atau pernah terjadi dalam kehidupannya. Saya sendiri juga kadang begitu. Memang rasanya lebih mudah meluapkan peristiwa yang telah kita lalui, tinggal menambah sedikit bumbu khayal yang ada di pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar