Minggu, 05 Maret 2017

Dari Liwet ke Liwet -- Cerita Nasi Liwet di Solo

Assalamualaikum. Wah, sudah lama ya saya tidak coret-coret di sini. Hehe. Duh, gimana ya... kesibukan yang tak ada habisnya sih... ini juga lagi fight for skripsweet :"( *alesan :p. Okay, tidak usah panjang kali lebar, kali ini saya akan menulis sedikit ulasan tentang nasi liwet atau sego liwet dalam Bahasa Jawa. Sudah hampir 4 tahun hidup di Surakarta (Solo) salah satu kuliner kesukaan saya adalah nasi liwet ini. Pertamakali mencoba makanan bernama nasi liwet itu ya waktu jadi mahasiswa di Solo, dan.... langsung ketagihan *emang dasarnya doyan makan sih :3. Nasi liwet itu nasi gurih dimasak dengan santan kelapa (mirip nasi uduk), dengan sayur labu siam, suwiran ayam, dan areh (sari santan kental). Okay, jadi sepanjang perjalanan saya dalam dunia perkulineran Solo, ini beberapa nasi liwet yang pernah saya coba plus testimoninya:

Rabu, 23 November 2016

Balada Kemiskinan

Tentang kemiskinan
"mbok pikir nyang dokter kulit cukup 100-200 ewu?"
Ada yang menjawab kelakarku tentang ide berobat ke dokter kulit
Telan lah semua hinaan
Cukup telan dan buktikan
Siapa di masa depan yang jadi tuan serta majikan
Kemiskinan memang harus ditertawakan
Tak perlu menyimpan dendam
Kami mungkin miskin
Tapi tiap tahun bapak tak pernah absen berkurban seekor sapi meski tak sendiri
Kami mungkin miskin
Tapi tiap bulan bapak tak pernah lupa menyisihkan hak yatim dan dhuafa
Dan semua tanpa berkata - kata
Dan tak perlu orang tahu semua
Kemiskinan memang harus ditertawakan
Karena Tuhan lebih kaya dari yang kau kira
Jika kau percaya

 -Sebuah senja di Surakarta, 23 November 2016-

Selasa, 08 November 2016

Random

Katakanlah mungkin ini adalah salah satu ekspresi katarsis saya. Saya sudah mengalami banyak hal akhir - akhir ini. Time flies. Beberapa moment terlewatkan begitu saja tanpa sempat saya abadikan dalam sebuah tulisan. Mungkin saya yang belum terbiasa. Karena katanya menulis itu adalah sebuah pembiasaan. Menggembalakan rasa bosan.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya abadikan di sini.
Tentang delapan digit angka. Tentang uang yang saya dapatkan. Ah, saya lupa kapan persisnya mendapat gaji pertama. Kapan tepatnya mendapat keuntungan dari bisnis kecil - kecilan yang saya punya. Kapan pertamakali mendapat bayaran untuk waktu dan tenaga yang saya keluarkan. Tapi rasanya semua yang saya dapatkan belum cukup menutupi hitungan delapan digit angka tiap semester beserta plus - plus lainnya. Kelebihanmu Pak, Buk, adalah mau memberikan hasil tetesan keringat kepadaku meski aku tidak menawarkan kepastian tentang masa depan.

Tipisnya Dompet Maru


 

Hallo... aku baru aja wisuda loo (tumben pake "aku" :p). Jadi dalam rangka mengaktifkan blog ini biar tidak jadi sarang kuntilanak. wkwkwk. Ini tulisan udah lama banget dari tahun 2013 waktu jadi mahasiswa baru dulu (sekarang udah jadi mahasiswa baru lagi -_-). Ini dibuat karena magang BEM FK di Kominfo. Jadi bikin artikel gitu buat ngisi mading sama Erythro (persma Fakultas). Akhirnya bikin ini karena nggak tau musti nulis apa. hehe. So, silakan menikmati coretan sedikit curhat 3 tahun lalu :)