Minggu, 21 Juli 2013

Fiction : Dia


#dibuat untuk bersenang – senang dan sedikit melupakan masalah yang menghantam akhir – akhir ini. Terapi menulis, saran dari seorang psikolog untuk mengobati diri sendiri.

Inspired by : My True Story


“Mm, kamu merasa anginnya berhenti nggak?”, dia bertanya padaku. Aku hanya mengangguk sambil merasakan suasana yang tiba – tiba tenang, tanpa desau angin.

“Katanya, suasana seperti ini yang pas banget untuk sholat malam”, dia kembali berkata. Aku melirik jam di ponsel yang menunjukkan hampir pukul tiga pagi. When I first saw you. Four years ago.

***


Di sebuah warnet, aku sedang sibuk berselancar di dunia maya mencari bahan untuk tugas sosiologi yang harus dikumpulkan besok. Parah, masa satu kelas remidi semua. Akhirnya dengan embel – embel “tugas tambahan” kami semua mendapat tugas mencari foto yang berhubungan dengan empati, simpati, dan kawan – kawannya itu beserta penjelasannya.

“Lagi cari apa mbak?”, seseorang tiba – tiba membuka tirai di samping kiriku dan tersenyum. Dia lagi. Sumpah gue kaget! Ini orang sejak kapan duduk di samping gue?!

***

“Habis ini sih rencana nerusin kuliah. Setidak - tidaknya sampai S2, itu permintaan ibuku”.

“Terus habis itu?”, aku yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.

“Cari kerja”.

“Habis itu?”, aku kembali bertanya.

“Melamar kamu”, dia menjawab tanpa menoleh kepadaku. Aku hanya tersenyum tipis dan berkata dalam hati. Kamu pikir aku percaya?

***

“Eh, ada yang mau aku katakan sama kamu. Menurut kamu, harus aku katakan sekarang apa tidak?”

“Ya katakan aja. Kita tidak pernah tahu apa masih punya kesempatan kedua untuk mengatakannya lagi nanti”, aku menjawab pertanyaannya tanpa menoleh dari buku yang kubaca.

“Tapi jangan ketawa ya?”

Aku hanya mengangguk dan mulai mendengarkan apa yang hendak dikatakannya.

“Aku….sayang..kamu”

Dan aku hanya tertawa mendengar apa yang baru saja dia katakan. Gombal banget orang ini. Udah berapa cewek ya, yang dapat pernyataan semacam itu. Aku berkata dalam hati.

“Tapi aku nggak mau pacaran”, aku menjawab pernyataannya dengan menahan tawa.

“Aku nggak ngajak kamu pacaran. Cuma pengen bilang itu aja. Saat ini, kamu adalah perempuan yang paling dekat sama aku”.

***

Dalam kecepatan sedang aku menaiki sepeda motor, ketika tiba – tiba dari arah samping kanan sebuah sepeda motor membunyikan klakson untuk mendahuluiku. Pengendara itu tersenyum kepadaku. Dia lagi.

***

Senin pagi ini aku agak terburu – buru berangkat ke sekolah. Sampai di sebuah pertigaan, mata ini menangkap sebuah sosok pengendara sepeda motor. Pengendara itu juga menatapku terkejut. Dia lagi.

***

Siang itu dengan kecepatan penuh aku mengendarai sepeda motor. Kebiasaan jam karet. Kalau sudah banyak yang nunggu baru kalang kabut berangkat. Berniat mendahului pengendara di depanku. Lagi – lagi dia. Jangan – jangan dia bukan orang, tapi, makhluk halus. Kenapa selalu ada orang ini di setiap sudut yang kulalui -_- .

***


“Eh, rambut kamu kelihatan itu! Kalau pakai jilbab itu yang bener, ditutupi semua, jangan setengah – setengah”. Begitu selalu komentarnya jika melihat satu helai saja rambutku keluar dari jilbab. Lalu dengan malas – malasan aku merapikan helaian yang keluar dan menjawab dalam hati, Heboh banget sih. Itu kan, hanya sehelai rambut. Aku juga tidak dengan sengaja mengeluarkannya. Bisa saja karena tertiup angin atau aktivitasku seharian ini. Banyak kemungkinan. Yang pasti aku tidak dengan sengaja memperlihatkan rambutku. Dasar heboh.
***

Dulu aku sempat tidak menyangka ketika orang itu muncul dari bagian depan bus. Malam itu dia berlari dalam keadaan hujan dan izin dosen untuk meninggalkan kuliah hanya demi mengejar bus terakhir di Terminal Purabaya. Hanya untuk menemaniku pulang dan melihatku sampai rumah dengan selamat. Dan di akhir perjalanan, aku yang awalnya sudah sakit ditambah dengan dia yang sakit juga dan sempat muntah – muntah. Mungkin masuk angin akibat cuaca Surabaya yang sedang tidak bersahabat. Dasar bodoh. Aku bisa pulang sendiri walau dalam keadaan sakit. Tidak perlu diantar sampai kamu harus meninggalkan kuliah segala. Nah, sekarang kamu jadi ikut sakit juga. Begitu pikirku malam itu. Antara iba dan terharu atas apa yang dilakukannya.

***

Dia yang bukan tipe romantis tiba – tiba memberi ini kepadaku.



Kepadamu pencuri hatiku

Yang selalu membuatku resah

Resah jika kau menjauh dariku

Resah jika kau tak di sampingku

Resah jika kau menangis

Mungkin aku bukanlah orang yang sempurna bagimu

Dan aku tahu kau terlalu sempurna untukku

Tapi satu harapanku,

Semoga kelak kau bisa melengkapi tulang rusukku

Dan bisa berbagi suka duka bersamaku



Tidak terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah puisi memang. Tapi aku tahu dia membuat itu dengan susah payah untuk meyakinkanku. Dan tanpa dia tahu, sampai sekarang aku masih berkaca - kaca setiap membacanya kembali.



#Masih percaya ungkapan “jodoh pasti bertemu”. Masih sedikit sakit dan depresi. Namun, tidak se-takut dan se-kusut biasanya. Is It called “real” breakup? Haruskah mengucapkan selamat tinggal, sekarang?

4 komentar: