Jumat, 26 Juli 2013

Malaikat Tak Pernah Salah

               Alhamdulillah, tidak terasa sudah sampai pertengahan ramadhan. Ramadhan kali ini memang tidak terbebani oleh tugas sekolah seperti tahun – tahun sebelumnya #ciyee, yang udah mau jadi mahasiswa :p . Urusan mencari perguruan tinggi, administrasi, dan segala urusan mahasiswa baru alhamdulillah juga sudah selesai. Kegiatan bolak – balik Kediri – Surakarta juga sudah habis. Tinggal pindah, masuk, dan resmi menjadi mahasiswa *hehehe. Karena sama sekali tidak ada kegiatan yang menuntut fokus, saya mencoba belajar mengumpulkan uang. Caranya dengan membuat kue kering untuk lebaran, walaupun yang pesan juga masih para tetangga *hehehe. Semua step saya sendiri yang mengerjakan (ternyata capek banget!). Rasanya pinggang seperti mau patah waktu proses membentuk adonan yang memakan waktu berjam – jam dan harus duduk dalam waktu lama  -_- . Untuk bagian mengoven itu urusannya ibu, saya bisa sih, sebenarnya *hehehe. Yah, lumayan untuk menambah tabungan. Karena rencana setelah lulus nanti saya harus bisa membiayai sendiri biaya kuliah lanjutan saya. Entah untuk melanjutkan S1 atau D4. Rencana yang lebih besar juga pengen nerusin S2. Aamiin. Insya Allah.
                Ramadhan kali ini juga tidak terlalu banyak acara buka bersama yang saya hadiri. Mungkin karena sebagian besar teman juga masih sibuk mengurus perpindahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Malah ada teman saya yang sudah masuk sejak kemarin – kemarin. Posting kali ini saya akan membahas obrolan singkat waktu buka bersama teman – teman alumni asrama putri kemarin. Karena obrolan itu terngiang – ngiang dan terus mengusik saya.
Jadi begini, sehabis sholat maghrib kami semua mengobrol di lantai atas masjid sekolah. Ada salah satu adik kelas sekaligus teman satu angkatan (karena akselerasi, lulusnya bersamaan dengan kami) yang diterima di fakultas kedokteran prodi pendidikan dokter. Di tengah obrolan saya bilang, “nanti kalau ambil spesialis, ambil spesialis kandungan aja dek. Kan jarang tuh, ada dokter kandungan perempuan, kebanyakan laki – laki semua”. Tiba – tiba salah satu teman angkat bicara dengan gaya khasnya kepada saya, “Eh, jangan ! Nanti kita nggak laku”. Semua tertawa mendengar itu. Saya sendiri hanya menjawab sambil tertawa, “Nggaklah, tetap laku”. “Iya, sekalipun tidak laku, bidan itu tetap kaya”, salah satu teman menambahkan. Secara menurut saya, tugas dokter kandungan dan bidan juga berbeda. Ada wilayah sendiri yang hanya boleh disentuh dokter dan ada wilayah sendiri yang boleh disentuh seorang bidan. Tidak ada alasan untuk takut bersaing karena profesi yang serupa. Sebelum itu juga pernah ada teman yang berkata, “Ya yang paling cepat kaya nanti itu bidan kan?”. Tapi bagi saya, semua itu sudah ada yang mengatur. Jodoh, rezeki, kematian, semua sudah diatur secara rapi dan teratur olehNya. Malaikat Mikail juga tidak pernah salah sasaran dalam menjalankan tugas untuk menurunkan rezeki dariNya kepada manusia. Lagipula, menurut saya, apakah tidak terlalu “dangkal” dan (maaf) picik untuk hanya memikirkan materi dengan peranan sebagai seorang tenaga medis? Karena menyangkut nyawa manusia, tidakkah semuanya harus didasari keikhlasan untuk menolong? Kata ikhlas sendiri sangat sulit diartikan dan dirasakan secara nyata kehadirannya. Letaknya di dalam hati, hanya Tuhan yang mengerti seberapa ikhlas hati manusia. Saya sendiri juga masih harus banyak belajar dengan konsep itu. Sebagai manusia biasa dan normal, memang tidak munafik dengan bekerja untuk mengejar materi. Tidak salah jika ada orang berpikir begitu. Berpikir realistis, saya juga berkeinginan nanti bisa hidup berkecukupan bersama suami dan anak - anak saya. Namun, ke-realistisan saya itu tidak boleh dibarengi dengan matrealistis. Menurut saya, akan lebih baik jika itu tidak dijadikan alasan utama untuk dikejar. Bukankah ridhaNya lebih utama dan lebih baik dibanding semua itu? Bukankah jika kita mengejar akhirat, Insya Allah dunia akan ikut terkejar? Sebaliknya jika kita mengejar dunia, akhirat akan terlupa dan tidak terkejar?

"Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (Ali Imran : 37)

dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al anfal : 26)

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’ : 24)

-waktu senja sambil menunggu maghrib tiba-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar