Rabu, 27 Februari 2013

Donor Darah? Why Not?


Darah adalah salah satu komponen yang penting bagi tubuh. Darah yang kehadirannya jarang kita lirik suatu ketika bisa menjadi penyelamat nyawa orang lain. Bahkan statistik menunjukkan bahwa 25 persen atau lebih dari kita akan membutuhkan darah paling tidak sekali seumur hidup. Namun, masalah darah di Indonesia tidak sesederhana kelihatannya, orang yang butuh tinggal lari ke PMI dan mendapat darah yang diperlukan. Stok darah yang tersedia selalu terbatas bahkan bisa dikatakan minim. Dalam delapan detik selalu ada orang yang membutuhkan bantuan darah. Selama satu tahun, kebutuhan darah di Indonesia mencapai 4,8 juta kantong darah. Dari jumlah itu, PMI hanya mampu memenuhi 3 juta kantong per tahun. Kebutuhan darah meningkat pesat bila ada bencana nasional yang berskala besar. Transfusi darah dibutuhkan terutama untuk korban kecelakaan, pasien kanker, pasien bedah, pasien transplantasi organ dan pasien luka bakar. Tidak usah berbicara sulitnya mencari golongan darah tertentu, untuk mencari golongan darah yang umumnya dimiliki masyarakat saja masih sulit.
Seharusnya Indonesia tidak akan kekurangan stok darah di PMI, mengingat negeri ini dihuni oleh 220 juta jiwa yang similar dengan kira-kira 1,1 milyar liter stok darah (dengan menganggap setiap orang kompatibel sebagai pendonor). Seandainya setiap diri kita rutin mendonorkan darah 1 kali saja per tahunnya, niscaya pekerjaan PMI akan lebih ringan karena jumlah tersebut lebih dari cukup terhadap kebutuhan. Namun, realita yang terdapat pada masyarakat Indonesia masih membuat petugas PMI repot dan harus tetap berkoar menyuarakan kampanye agar lebih banyak lagi yang terketuk hatinya untuk menyumbangkan darah mereka.
Ironi yang terjadi di negeri kita adalah walaupun jumlah warganya termasuk padat, di beberapa daerah masih menunjukkan sikap apatis terhadap gerakan transfusi darah. Padahal jika kita tahu manfaat donor darah bagi kesehatan sangat banyak. Saya sendiri berkesempatan bertanya kepada petugas yang mengambil darah saya waktu donor bulan lalu. Tidak ada kerugian jika kita mau donor, malah semakin sehat. Darah yang beredar dalam tubuh kita itu ibarat oli dalam sebuah mesin. Jadi perlu diganti juga, sewaktu donor itu lah tubuh kita akan memproduksi lagi dan darah kita akan berganti dengan sel-sel darah yang masih baru. Keuntungan lain adalah kita berkesempatan periksa kesehatan gratis. Sebelum pengambilan darah pasti kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Dari situ akan ketahuan kondisi tubuh kita. Kalau toh tidak diketahui saat itu, kita pasti akan diberitahu jika ternyata darah yang sudah diambil dan dibawa mengandung penyakit yang. Dan tentu saja kebahagiaan akan kita dapatkan setelah membantu orang yang bahkan sama sekali belum pernah kita temui itu. Karena bagi saya membuat orang lain bahagia itu sulit.
                Namun, ada yang harus diperhatikan sebelum kita mendonorkan darah, yaitu :
o   Berusia 17-60 tahun
o   Berat badan minimum 45kg
o   Tekanan darah baik, yaitu: Sistole = 110 – 160 mmHg,  Diastole = 70-100 mmHg
o   Denyut nadi teratur 50 – 100 kali/menit
o   Hemoglobin: Wanita Minimal = 12 gr%, Laki-laki Minimal = 12,5 gr%
o   Jumlah pendonoran maksimal 5 kali/tahun, dengan jarak sekurang-kurangnya 3 bulan.
Biasanya sebelum donor kita sudah diberi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan syarat pendonor.
Bagi penderita darah rendah sebenarnya tidak apa-apa jika mendonorkan darah. Namun sebelumnya pastikan makan terlebih dahulu agar tekanan darah tidak terlalu rendah. Jika tekanan darah turun bisa berakibat lemas dan pusing. Sewaktu donor kemarin saya sempat mengalaminya sehingga harus dibantu dengan tabung oksigen segala *hhehe. Setelah saya tanya-tanya kepada petugasnya mengapa saya mendadak lemas dan pusing, ternyata tekanan darah saya tiba-tiba turun. Mungkin sarapannya kurang kali ya *hhehe. Resep dari teman saya, Nabila, yang juga menderita darah rendah, sebaiknya sebelum donor minum sari kedelai agar tekanan darah tidak turun mendadak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar