Selasa, 08 November 2016

Tipisnya Dompet Maru


 

Hallo... aku baru aja wisuda loo (tumben pake "aku" :p). Jadi dalam rangka mengaktifkan blog ini biar tidak jadi sarang kuntilanak. wkwkwk. Ini tulisan udah lama banget dari tahun 2013 waktu jadi mahasiswa baru dulu (sekarang udah jadi mahasiswa baru lagi -_-). Ini dibuat karena magang BEM FK di Kominfo. Jadi bikin artikel gitu buat ngisi mading sama Erythro (persma Fakultas). Akhirnya bikin ini karena nggak tau musti nulis apa. hehe. So, silakan menikmati coretan sedikit curhat 3 tahun lalu :)

Rabu, 11 Mei 2016

Flashfiction : Hari Ini 11 Mei

Kepada kamu yang kusembunyikan selama ini, sosokmu masih saja sukar ditangkap oleh neuron-neuron pada retina untuk diproses melalui nervus optikus.

Hari ini 11 Mei...
Do you still remember?
Baiklah, karena kamu adalah seorang yang cukup pelupa pada hal-hal sederhana, aku akan mengingatkan. Tepat tujuh tahun yang lalu kamu bertemu seorang perempuan pendiam. Kali ini, bukan tentang perempuan pendiam dan laki – laki yang tak peka. Laki – laki tak peka yang bisa – bisanya tertawa saat jiwaku merintih. Yang terus melangkah saat aku kelelahan dan tertinggal jauh di belakang. Mungkin laki – laki memang harus lebih merasa. Sebab perempuan tak bisa dipaksa bersuara.

Minggu, 05 Juli 2015

Interprofessional Education : Kolaborasi Dokter Muda dan (calon) Bidan Muda

Ini kelompok kami (sayang mei belum bisa ikut karena habis jaga malam)
Akhirnya kesampaian buat meng-update blog ini lagi. Setelah sekian lama meninggalkan dunia per-blog-an dengan alasan telah berubah menjadi manusia banyak urusan. Hehe. Mau menceritakan sedikit pengalaman dari IPE (Interprofessional Education)-Community Health Project. Mungkin dulu sempat mendengar kata IPE waktu ada NHC (National Health Colaboration) yang pernah diadakan di Unissula dan UGM ya kalau tidak salah. Setahu saya itu adalah inisiasi dari beberapa organisasi kemahasiswaan profesi kesehatan seperti ISMKI,CIMSA, (bagi Pendidikan Dokter), Ikamabi (Kebidanan), Ismafarsi (Farmasi), dan beberapa ormawa profesi kesehatan lainnya.

Selasa, 02 Desember 2014

Flashfiction : Yogyakarta dan Kita



Sore senja di sudut jogja,
terucap doa kau tahu isi hati ini.
Dan bila itu tak terungkap,
tetap kunikmati rasa jatuh cinta sendiri.
Tak mampu kuungkap segalanya.
–Kata Hati-
By : Nadya Fatira

Jogja masih sama. Tidak berubah, meski tetap berbenah. Rasa ini juga masih sama. Tidak berubah, meski usia bertambah. Empat tahun lalu di sebuah sudut kota, kita sering berbicara tanpa kata – kata...

Malioboro. Sebuah jalan panjang. Menjadi sasaran bidikan kamera kita pada beberapa sudutnya.  Menjadi saksi langkah tergesa kita menuju Stasiun Tugu, mengejar kereta yang hendak berangkat. Dan turut menjadi saksi wajah bingungmu ketika memutuskan akan mengisi perut di mana, atau ingin membelikan sesuatu untukku. Dompet? Tas? Souvenir? Kaos? Batik? Aku bilang tidak perlu. Kamu pasti lupa kalau aku tidak suka hal semacam itu. Kamu pasti lupa kalau aku adalah orang yang cukup jeli dalam hal keuangan.

Setelah itu masing – masing dari kita pergi. Menapaki jalan hidup masing – masing. Tanpa sempat memberi kesempatan hati bicara.

Katamu cinta itu tidak jelas. Tapi menurutku cinta itu harus tegas.

Senja ini di sebuah sudut Kota Yogyakarta kita berjumpa. Seperti terakhir kali bertemu empat tahun lalu. Kita masih berbicara tanpa kata – kata. Hanya saja kali ini kamu setuju jika cinta itu harus tegas. Untuk itu lah kamu membawa sebuah permintaan indah. Dan aku hanya bisa mengangguk dengan tatapan berkaca – kaca tak percaya.


Jumat, 07 November 2014

Aku Percaya


Cerita sebenarnya tidak pernah akan berakhir. Sama seperti kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan adalah sebuah kitab penuh cerita. Setelah manusia mati pun, cerita akan tetap ada. –Jakarta, April 2009_Anissa Salsabila-

Entah bagaimana aku, kamu, atau mereka mendeskripsikan semua. Sesuatu yang ajaib dan luar biasa. Yang sekejap datang dan merenggut alam nyata. Membawa kita berdua pada rangkaian kata lalu menjadi sebuah cerita.

Kita bukan Romeo dan Juliet atau Laila dan Qais yang majnun. Karena gerimis air mata itu malah menyalakan kobaran api semangat dalam hidup. Aku percaya, perpisahan ini akan membuat kita semakin kuat, membaja, kokoh. Seperti prasasti purba yang menuliskan sejarah yang tak lekang oleh masa. Aku dan kamu berharap ini adalah keputusan yang membawa kita menuju jalan terbaik. Semoga masing – masing dari kita bisa saling memperbaiki diri menjadi lebih baik di mata-Nya. Aamiin.

Entah berapa puluh purnama yang harus kita lewati. Aku sangat percaya suatu saat kita akan dipertemukan kembali. Dan dinikahkan oleh semesta.

The Long Distance Relationship



.....Aku ingin segera menyeberangi lautan dan melompati gumpalan awan. Menembus batas antara jarak dan rindu untuk segera bertemu....

 “Kamu mau pesan apa? Mm.. biar aku tebak, pasti kopi pahit tanpa gula ya?”, Riani sudah berceloteh dengan riang sebelum Radit sempat menjawab pertanyaannya.
“Iya. Kok kamu tahu?”, jawab Radit dengan tersenyum.
“Apa sih yang aku nggak tahu tentang kamu?”, balas Riani sambil tertawa renyah.
“Aku memang nggak salah pilih istri ya... hahaha.” Radit ikut menimpali canda yang dilontarkan istrinya itu.
“Mbak, coklat panas satu, dikasih gula sedikit ya,” pesan Riani kepada pelayan Cafe.
“Mbak, kopi pahit tanpa gula satu ya,” pesan Radit kepada pelayan Cafe.
Tiba- tiba hening menyeruak. Riani yang tadinya ceria dan berceloteh mendadak diam. Air wajahnya menunjukkan sesuatu yang sedang dipendam. Radit menangkap perubahan raut wajah istrinya itu.
                “Ri, kamu yang sabar ya. Sebentar lagi semuanya selesai dan aku pasti kembali”
Sejenak Riani menundukkan wajah dan tersenyum. Matanya kembali menatap layar notebook di depannya. Layar itu berisi wajah Radit, suaminya. Wajah teduh yang selalu dia rindukan belakangan ini.