Hallo... aku baru aja wisuda loo (tumben pake "aku" :p). Jadi dalam rangka mengaktifkan blog ini biar tidak jadi sarang kuntilanak. wkwkwk. Ini tulisan udah lama banget dari tahun 2013 waktu jadi mahasiswa baru dulu (sekarang udah jadi mahasiswa baru lagi -_-). Ini dibuat karena magang BEM FK di Kominfo. Jadi bikin artikel gitu buat ngisi mading sama Erythro (persma Fakultas). Akhirnya bikin ini karena nggak tau musti nulis apa. hehe. So, silakan menikmati coretan sedikit curhat 3 tahun lalu :)
Selasa, 08 November 2016
Tipisnya Dompet Maru
Hallo... aku baru aja wisuda loo (tumben pake "aku" :p). Jadi dalam rangka mengaktifkan blog ini biar tidak jadi sarang kuntilanak. wkwkwk. Ini tulisan udah lama banget dari tahun 2013 waktu jadi mahasiswa baru dulu (sekarang udah jadi mahasiswa baru lagi -_-). Ini dibuat karena magang BEM FK di Kominfo. Jadi bikin artikel gitu buat ngisi mading sama Erythro (persma Fakultas). Akhirnya bikin ini karena nggak tau musti nulis apa. hehe. So, silakan menikmati coretan sedikit curhat 3 tahun lalu :)
Rabu, 11 Mei 2016
Flashfiction : Hari Ini 11 Mei
Kepada kamu yang kusembunyikan selama ini, sosokmu
masih saja sukar ditangkap oleh neuron-neuron pada retina untuk diproses
melalui nervus optikus.
Hari ini 11 Mei...
Do you still remember?
Baiklah, karena kamu adalah seorang yang cukup
pelupa pada hal-hal sederhana, aku akan mengingatkan. Tepat tujuh tahun yang
lalu kamu bertemu seorang perempuan pendiam. Kali ini, bukan tentang perempuan
pendiam dan laki – laki yang tak peka. Laki – laki tak peka yang bisa – bisanya
tertawa saat jiwaku merintih. Yang terus melangkah saat aku kelelahan dan
tertinggal jauh di belakang. Mungkin laki – laki memang harus lebih merasa.
Sebab perempuan tak bisa dipaksa bersuara.
Minggu, 05 Juli 2015
Interprofessional Education : Kolaborasi Dokter Muda dan (calon) Bidan Muda
![]() |
| Ini kelompok kami (sayang mei belum bisa ikut karena habis jaga malam) |
Selasa, 02 Desember 2014
Flashfiction : Yogyakarta dan Kita
Sore senja di sudut jogja,
terucap
doa kau tahu isi hati ini.
Dan
bila itu tak terungkap,
tetap
kunikmati rasa jatuh cinta sendiri.
Tak
mampu kuungkap segalanya.
–Kata
Hati-
By
: Nadya Fatira
Jogja masih sama. Tidak
berubah, meski tetap berbenah. Rasa ini juga masih sama. Tidak berubah, meski
usia bertambah. Empat tahun lalu di sebuah sudut kota, kita sering berbicara
tanpa kata – kata...
Malioboro. Sebuah jalan
panjang. Menjadi sasaran bidikan kamera kita pada beberapa sudutnya. Menjadi saksi langkah tergesa kita menuju
Stasiun Tugu, mengejar kereta yang hendak berangkat. Dan turut menjadi saksi
wajah bingungmu ketika memutuskan akan mengisi perut di mana, atau ingin
membelikan sesuatu untukku. Dompet? Tas? Souvenir? Kaos? Batik? Aku bilang
tidak perlu. Kamu pasti lupa kalau aku tidak suka hal semacam itu. Kamu pasti
lupa kalau aku adalah orang yang cukup jeli dalam hal keuangan.
Setelah itu masing – masing
dari kita pergi. Menapaki jalan hidup masing – masing. Tanpa sempat memberi
kesempatan hati bicara.
Katamu cinta itu tidak jelas.
Tapi menurutku cinta itu harus tegas.
Senja ini di sebuah sudut Kota
Yogyakarta kita berjumpa. Seperti terakhir kali bertemu empat tahun lalu. Kita
masih berbicara tanpa kata – kata. Hanya saja kali ini kamu setuju jika cinta
itu harus tegas. Untuk itu lah kamu membawa sebuah permintaan indah. Dan aku
hanya bisa mengangguk dengan tatapan berkaca – kaca tak percaya.
Jumat, 07 November 2014
Aku Percaya
Cerita sebenarnya tidak pernah akan berakhir. Sama seperti kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan adalah sebuah kitab penuh cerita. Setelah manusia mati pun, cerita akan tetap ada. –Jakarta, April 2009_Anissa Salsabila-
Entah bagaimana
aku, kamu, atau mereka mendeskripsikan semua. Sesuatu yang ajaib dan luar
biasa. Yang sekejap datang dan merenggut alam nyata. Membawa kita berdua pada rangkaian
kata lalu menjadi sebuah cerita.
Kita bukan
Romeo dan Juliet atau Laila dan Qais yang majnun. Karena gerimis air mata itu
malah menyalakan kobaran api semangat dalam hidup. Aku percaya, perpisahan ini
akan membuat kita semakin kuat, membaja, kokoh. Seperti prasasti purba yang
menuliskan sejarah yang tak lekang oleh masa. Aku dan kamu berharap ini adalah keputusan
yang membawa kita menuju jalan terbaik. Semoga masing – masing dari kita bisa
saling memperbaiki diri menjadi lebih baik di mata-Nya. Aamiin.
Entah berapa
puluh purnama yang harus kita lewati. Aku sangat percaya suatu saat kita akan
dipertemukan kembali. Dan dinikahkan oleh semesta.
The Long Distance Relationship
.....Aku ingin segera menyeberangi lautan dan
melompati gumpalan awan. Menembus batas antara jarak dan rindu untuk segera
bertemu....
“Kamu mau
pesan apa? Mm.. biar aku tebak, pasti kopi pahit tanpa gula ya?”, Riani sudah
berceloteh dengan riang sebelum Radit sempat menjawab pertanyaannya.
“Iya. Kok kamu tahu?”, jawab Radit dengan
tersenyum.
“Apa sih
yang aku nggak tahu tentang kamu?”,
balas Riani sambil tertawa renyah.
“Aku memang nggak salah pilih istri ya... hahaha.” Radit ikut menimpali canda
yang dilontarkan istrinya itu.
“Mbak, coklat panas satu, dikasih gula
sedikit ya,” pesan Riani kepada pelayan Cafe.
“Mbak, kopi pahit tanpa gula satu ya,” pesan
Radit kepada pelayan Cafe.
Tiba- tiba hening
menyeruak. Riani yang tadinya ceria dan berceloteh mendadak diam. Air wajahnya
menunjukkan sesuatu yang sedang dipendam. Radit menangkap perubahan raut wajah
istrinya itu.
“Ri, kamu yang sabar ya.
Sebentar lagi semuanya selesai dan aku pasti kembali”
Sejenak
Riani menundukkan wajah dan tersenyum. Matanya kembali menatap layar notebook di depannya. Layar itu berisi wajah
Radit, suaminya. Wajah teduh yang selalu dia rindukan belakangan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)




