Kamis, 12 Juli 2012

Sihir "Negeri 5 Menara"

Dari judulnya pasti sudah terlihat bahwa yang akan saya tulis adalah bahasan kadaluwarsa. Hhaha :D. Sebenarnya nulisnya sudah lama, tapi baru kali ini sempat posting di blog ini. Lama tidak membuka dan posting... karena tugas-tugas di akhir semester itu sangat menumpuk dan butuh perhatian dari saya. Jadi saya harus lebih perhatian ke mereka. (Alasan... -_-). Belum lagi masalah-masalah lain yang datang silih berganti. Dan ditambah sekarang saya sudah sampai di titik kelas 12,kelas terakhir di SMA. So, lebih banyak pula yang harus dipirkan. (Alasan lagi... -_-). Oke, cukup ya saya beberkan alasan - alasan saya tadi. Kali ini mau posting tentang sesuatu yang sedikit banyak telah mengubah paradigma berpikir saya. Motivasi banget dan sangat menggugah semangat. Tulisan ini pernah saya publikasikan di kompasiana.com, ketika itu iseng - iseng saya membuat akun kompasiana dan ikut lomba menulis artikel tentang film Negeri 5 Menara. Tapi ad beberapa bagian yang saya revisi,karena watu itu nulisnya juga asal-asalan. Hhehe :D.
Oke,..dimulai yak...


-->
Cerita berawal dari Alif Fikri, seorang anak yang mempunyai mimpi meneruskan SMA dan kuliah di ITB, Bandung. Namun mimpi itu harus disimpannya karena orang tuanya menginginkan dia meneruskan belajar di Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur. Walau tidak sesuai dengan hatinya Alif menuruti saja keinginan kedua orang tuanya. Menurut persepsi banyak orang saat itu pesantren dianggap sebagai tempat anak-anak buangan. Anak-anak nakal yang tidak diterima di sekolah umum. Dari Padang, Sumatera Barat berangkatlah dia ke Ponorogo, Jawa Timur. Di sana dia bertemu Raja Lubis yang berasal dari Medan, Atang yang berasal dari Bandung, Dulmajid yang berasal dari Madura, Sahid dari Surabaya, dan terakhir Baso, yang berasal dari Gowa, Sulawesi. Ikatan tidak berwujud bernama persahabatan membuat mereka menjadi dekat satu sama lain. Mereka mendapat sebutan Sahibul Menara yang berarti pemilik menara karena mereka berenam selalu berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani. Diwarnai juga dengan perasaan Alif kepada Sarah, keponakan Kyai Rais. Adegan mengharukan adalah perpisahan dengan Baso yang harus kembali ke Gowa untuk merawat sang nenek dan tidak bisa melanjutkan belajar di Pondok Madani. Beberapa saat setelah itu Alif yang memang dari awal ingin sekolah di Bandung tiba-tiba akan meninggalkan Pondok Madani juga. Alif menuai reaksi keras dari keempat kawannya. Namun pada akhirnya dia tidak akan meninggalkan pondok tercinta itu. Kisah sahibul menara terus berlanjut walau tanpa Baso. Pementasan untuk kelulusan kelas akhir mereka menampilkan kisah Ibnu Bathutah demi kawan mereka, Baso, yang sangat mengidolakan Ibnu Bathutah. Akhir cerita ditutup dengan adegan Alif yang berada di Amerika sebagai seorang reporter dari Voice of America (VOA) dan pertemuan mengaharukan dengan dua Sahibul Menara yang lain. Dari Amerika mereka menghubungi tiga Sahibul Menara yang lain yang ternyata berada di satu tempat dan sudah menjadi “orang”. Masing-masing dari mereka sudah mencapai tempat yang menjadi impian mereka sewaktu masih belajar di Pondok Madani dulu.
Satu kata-kata yang entah mengapa masih saya ingat sampai sekarang adalah adegan waktu Pak Salman, salah seorang ustadz Sahibul Menara mengeluarkan sebilah pedang dan kayu yangmengenalkan sebuah mantera ajaib, “bukan yang tajam, tapi yang sungguh-sungguh,man jadda wa jada!”, begitu terus diulang-ulang hingga semua berdiri dan merasakan getaran mantera itu. Sebuah mantera, kata-kata ajaib yang mampu menyihir saya juga. Setelah mendengar itu saya langsung terdiam dan pikiran saya bermain ke sana ke mari. Mengapa banyak orang, termasuk saya menganggap keberhasilan yang diraih adalah karena sudah suratan dari-Nya. Dengan kata lain banyak yang menganggap diri kita lebih rendah dari orang lain. Padahal kita semua diciptakan sama. Seperti dalam sebuah surat dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha mngubahnya. Seperti tersentil mendengar kalimat dari salah seorang ustadz Sahibul Menara itu. Benar juga, dalam hati saya membenarkan perkataan itu. Memang bukan kapasitas otak yang menentukan, tapi kesungguhan kita. Seperti mendapat suntikan semangat dari menonton film itu.
Cerita yang disajikan sekilas sama dengan novelnya. Kebetulan saya sudah membaca novelnya sebelum menonton film ini. Namun setelah saya bandingkan dengan novelnya ternyata ada beberapa perbedaan yang cukup menggangu bagi yang sudah tahu cerita versi novel. Memang untuk menggarap film dari sebuah novel membutuhkan banyak ketelitian karena para pembaca novel akan sudah sangat hafal dengan karakter maupun kisah yang disajikan. Berbeda sedikit saja penonton yang sudah membaca akan langsung melihatnya. Nah, sewaktu saya menonton memang ada sedikit ketidakpuasan karena cerita di film banyak sekali perbedaan dengan di novel. Memang menurut saya tidak terlalu mencolok dan kelihatan, tapi bagi saya itu cukup membuat saya risih. Beberapa perbedaan itu adalah : Misalnya saja pada waktu pementasan untuk perpisahan yang menampilkan kisah Ibnu Bathutah. Di film diceritakan Sahibul Menara (kecuali Baso) masih duduk di kelas 2, padahal seingat saya di novel pementasan itu dilaksanakan waktu mereka akan lulus. Waktu awal memasuki PM, Alif dan Sahibul Menara yang lain membawa almari menuju asrama mereka. Di novel mereka membawa milik mereka masing-masing, namun di film satu almari dibawa tiga orang. Sewaktu Alif berusaha berfoto dengan Sarah juga ada perbedaan. Waktu adegan Alif mendekati Sarah juga sangat berbeda dengan novel. Di film diceritakan Sarah adalah keponakan Kyai Rais, padahal di novel dia anak dari salah seorang ustadz pengajar di PM. Dan sewaktu ditantang teman-temannya untuk bisa berfoto dengan Sarah di film Alif gagal, sedangkan di novel dia berhasil. Ada juga adegan yang menurut saya cukup aneh yaitu ketika Sahibul Menara berusaha membuat seluruh pondok menonton pertandingan bulutangkis melalui sebuah pesawat televisi kecil. Itu kenapa si Sarah juga ikut nonton di tengah-tengah lelaki? Sangat kontras sekali dia di antara para santri yang berteriak-teriak. Dan saya juga merasa karakter dalam film juga sangat jauh dengan bayangan saya sewaktu membaca novel. Yah, mungkin karena sifat dasar manusia yang tidak akan pernah puas, jadi saya merasa kurang puas setelah menonton film ini. Tapi disyukuri saja dengan adanya film ini dapat menambah jumlah film yang memberikan tuntunan di tengah maraknya industri film Indonesia yang sangat miris ini.
Enam nama baru yang berperan menjadi enam Sahibul menara menurut saya aktingnya cukup bisa mengimbangi nama-nama lawas seperti Lulu Tobing, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, Andika Pratama, Mario Irwinsyah, dan nama lawas lain. Di film ini Lulu Tobing kembali berakting setelah sekian lama tidak muncul di industri film tanah air. Sakurta Ginting pun tidak ketinggalan meramaikan Negeri 5 Menara ini sebagai Randai, teman Alif di Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar