Kamis, 05 April 2012

Coretanku Tentang "Existere"

-->
Ada tiga tokoh utama di novel karya Sinta Yudisia ini, yang memiliki jalinan kisah sendiri dan sebenarnya antar tokoh tersebut saling berhubungan. Jamilah, Almaida, dan Qoshirotu Thorfi. Latar belakang penulis sebagai mahasiswi psikologi Universitas 17 Agustus (UNTAG) Surabaya dan kelebihan risetnya membuatnya mampu membuat analisa psikologis yang menjadikan Existere dipenuhi nilai-nilai pendidikan. Membuat saya sedikit banyak mengerti dan mengetahui yang selama ini belum saya ketahui. Istilah – istilah psikologi seperti id, ego, superego, hierarchy of needs, behavioristik, insting manusia paling mendasar, psikologi klinis, psikologi faal, psikologi sosial, psikologi diagnostik, atau apa lah itu namanya saya kagak ngerti. *Hhehe*. Penuh dengan istilah-istilah biologi yang sebagian saya pernah mendengar dan mengerti artinya. Namun itu semua tidak menjadi hambatan untuk menyerap jalinan cerita yang disajikan. Realitas kehidupan sehari-hari. Tidak terkesan murahan meski menjadikan bisnis pelacuran terbesar di Asia Tenggara sebagai latar belakang : Dolly, Surabaya.

-->
Diawali dari kisah Jamilah dengan segala kemiskinannya yang menyebabkan ibunya tega mengambil keputusan untuk menyuruhnya bekerja di luar kota dengan harapan mengangkat derajat keluarganya. Hingga ia tenggelam dalam lembah pelacuran di Dolly dan menjadi pengisi akuarium-akuarium di sana. Pemikiran Mila (Jamilah-red) dan kawan-kawannya sesama kupu-kupu di sana sangat sederhana tentang konsep dosa dan balasan untuk orang seperti mereka. Bahkan terkesan tidak bisa mereka sepenuhnya yang disalahkan. Wanita mana yang mau seperti mereka?kotor,tidak berguna,penghuni neraka paling dasar,penyakit. Ah, biarkan saja mereka membusuk di neraka. Bagaimana dengan mereka yang mengaku suci tapi enggan mengulurkan tangan untuk para pendosa seperti mereka? Setidaknya dihadapan Tuhan nanti mereka bisa mengajukan gugatan kepada orang-orang tersebut agar mereka tidak melenggang dengan mudah ke surga. Seiring berjalannya waktu Mila bisa mengecap pendidikan walau dengan kejar paket dan berhasil menjelma menjadi mahasiswi psikologi di salah satu universitas swasta di Surabaya tentu dengan identitas lain sebagai penjaja cinta. Pertemuan dengan Almaida, putri salah satu pelanggannya, Waluyo membuatnya merasakan getaran lain yang mengikat mereka layaknya hubungan kakak adik.
Almaida adalah gadis berjilbab putri dari pengusaha kaya bernama Waluyo. Mamanya, Hepi Waluyo selalu membandingkannya dengan Andre, kakaknya. Mamanya yang sempurna. Cantik,cerdas,selalu berkembang,berpikiran maju. Di tangan Hepi perusahaan-perusahaan Waluyo semakin mengokohkan kekuasaannya. Berbanding terbalik dengan Maida hanya bisa diam,apatis,sendiri adalah temannya, dia bisa tahan berlama-lama diam tanpa melakukan apa pun. Hal paling menakutkan dalam hidup adalah mamanya. Perasaan was-was dan tertekan adalah rasa ketika berhadapan dengan sang mama. Wajah mereka mirip, jadi tidak mungkin Maida bukan anak Hepi atau kemungkinan tertukar dan kemungkinan-kemungkinan lain. Berarti semua DNA, kromosom, gen yang ada dalam diri Maida adalah dari Hepi juga. Atau mungkin kromosomnya salah menyampaikan sinyal? Atau ada kesalahan waktu replikasi DNA? Sehingga Maida menjadi si cantik tapi dengan kapasitas otak yang tidak memadai. Tertekan adalah kawan akrab Maida. Rumah seperti istana itu hanya menyumbang rasa takut dalam hidupnya. Andre, kakak kandungnya, hampir saja merenggut kesuciannya. Tak ada gunanya mengadu pada Hepi atau Waluyo, merekan akan lebih memihak Andre yang lebih bisa dibanggakan dari dirinya. Waluyo, papanya, lebih banyak diam, pasrah, menuruti apa saja kata Hepi. Dia seperti kehilangan jiwa sebagai laki-laki ketika berhadapan dengan Hepi yang nyata-nyata lebih hebat darinya.

Masih dalam kota yang sama, Surabaya. Qoshirotu Torfi, orang tuanya salah satu pengusaha juga, hidupnya berkecukupan,tapi dia ingin merasakan kesusahan. Sangat menyukai tantangan. Sangat suka memberi. Zaman sekarang tak ada sesuatu yang gratis, bukan? Mintalah pada Ochi, dengan mudah akan diberikannya. Cukup cerdas dan dengan kondisi orang tuanya saat ini dia bisa dengan mudah menentukan jalan hidupnya, menjadi dokter atau pekerjaan lain yang dengan mudah bisa digapainya. Akhirnya setelah ibunya sakit, mungkin karena memikirkan putri semata wayang yang tidak mau kuliah atau setidaknya meneruskan pendidikannya Ochi memilih salah satu universitas swasta dan mengambil psikologi. Di sana dia bertemu Vanya yang kemudian menjadi sahabatnya. Vanya yang ternyata adalah penari striptease yang lambat laun semakin tenggelam menjadi pemijat di spa terselubung yang melayani pijat plus-plus. Dan mau tidak mau Vanya juga bergabung di Dolly. Bersama Vanya, Ochi merintis DeL. The Dream Land, tanah impian bagi siapa saja. Bagi mereka para penjaja cinta, bagi ayah ibu yang tidak dipelihara anaknya di masa tua, orang-orang setengah waras yang berkeliaran di pinggir jalan, anak-anak yang dibuang tanpa nasab yang jelas, perempuan tanpa suami dan pelindung, mantan penghuni penjara yang tak punya tempat tujuan, pesakitan yang terabaikan, sampah masyarakat yang tak punya tempat kemabali. Ochi ingin menaungi, berharap rumah istananya yang bahagia dapat dimiliki siapa pun. Betapa mulia cita-citanya, seperti namanya, Qoshirotu Torfi yang berarti bidadari. Singkat cerita DeL berkembang pesat hingga saat ini Ochi sendiri yang mengelolanya bersama dengan Yassir, suaminya. Hingga tiba-tiba Vanya Amelireya, sahabatnya, muncul dan menciptakan pertentangan dalam dirinya. Vanya membutuhkan Yassir di tengah perutnya yang semakin membesar. Ia akan mempunyai anak untuk kedua kalinya. Entah benih dari lelaki mana. Sudah beratus laki-laki bahkan mungkin ribuan yang sudah menanamkan sperma dalam rahimnya. Rahimnya yang kotor dan dihinggapi ribuan sperma dan mampu berkembang menjadi zygot dan berkembang menjadi janin. Berbeda dengan Ochi yang menurut dokter tidak ada masalah dalam rahimnya, hanya perlu bersabar. Tapi sampai kapan? Teori Sigmund Freud yang mati-matian dibantahnya tiba-tiba dia merasa melakukannya. Yang dilakukannya adalah insting hidup : bertahan, bertahan, bertahan. Entah apa tujuannya, yang pasti ia harus mempertahankan Yassir. Ochi sadar Yassir yang dicintai dan mencintainya sedang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri karena perut yang membesar itu, mungkin? Atau karena hati Yassir yang terlampau lembut dan mengasihani Vanya? Karena dia tidak bisa seperti Vanya sebagai wanita yang sempurna? Apa hanya mereka yang bisa mengandung lalu melahirkan yang pantas disebut wanita sempurna dan seorang ibu?
Ochi memilih jalan paling baik untuk rumah tangganya. Kejujuran adalah jawaban dan penyelesaian atas segala masalah. Tapi haruskah poligami menjadi jalan? Haruskah merelakan Yassir membagi cintanya?

Konflik yang pelik namun dengan penyelesaian yang tak disangka-sangka. Sangat menyenangkan membacanya. Tiap lembarnya penuh dengan apa yang belum saya ketahui. Walau bukan milik saya tapi saya sangat bersyukur bisa membacanya. Sepertinya saya harus berterimakasih kepada Dek Izzati, sang empunya buku. Makasih ya Dek,,.. Maaf bukunya tak pinjam lamaaaaaa banget. Masih tak baca-baca lagi soalnya. *hhehe*. Lha mau beli sendiri nggak ketemu-ketemu. Nanti kalau pulang kampung ke Surabaya aku diajak lagi juga nggak apa-apa kok. *ngarep…PD banget ya… :-D*.

Kata – kata dari Pak Mukti Ali, dosen favorit Ochi dan Vanya menutup rangkaian kisah ini :

“Mereka rela menjadi existere, orang yang sengaja menyuguhkan diri bagi sebuah penghidupan dan sebuah keberwujudan. Existere bukan hanya dalam konteks persembahan nyawa, tapi bagaimana orang memandang dirinya harus rela berkorban demi keseimbangan, demi orang lain.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar